Saat berinteraksi dengan sesama pebisnis, ada beberapa "penyakit" yang harus kita waspadai.
Pertama ; jika usaha kita pernah atau (merasa) sedang maju, biasanya ada hasrat untuk memoles usaha kita denga image-image kemapanan, kesejahteraan, kemewahan, serta atribut lainnya.
Kedua ; jika kita merasa usaha kita belum apa-apa, maka penyakit minder, ga pede, tidak "lepas" dalam berinteraksi, ragu mengeluarkan potensi atau justru iri dengki pada kemajuan usaha orang lain serta penyakit lainnya.
Saat gejala-gejala diatas mulai terdeteksi ada dalam diri kita, maka berhentilah sejenak, luangkan waktu untuk jujur berdialog dengan "diri kita".
Lihatlah dengan penglihatan yang objektif bagaimana dan baru sampai mana usaha kita sesungguhnya?
Bagaimana kondisi finansial usaha kita? cashflownya?, neracanya?. omset?, profit?, hardcash yang dipegang?
Bagaimana pemasarannya?, promosinya?, brandingnya?, volume penjualannya?
Lalu SDM, masih jadi self employeekah kita? Waktu kita habis untuk urus usaha? Bagaimana dengan keluarga? Adakah space waktu, pikiran dan dana untuk pengembangan diri kita?
Karyawan, bagaimana produktifitasnya?, kesejahteraannya? Pengembangan dirinya?
Dan berderat pertanyaan lainnya yang dapat kita dialogkan dengan "diri" kita
Setelah itu, apa langkah berikutnya???
Dengan menyisir kondisi usaha kita, maka kita akan tahu lubang lubang yang harus ditambal, retak retak yang harus diperbaiki, serta sisi mulus yang harus dipertahankan.
Lalu buat langkah langkah kongkrit agar usaha kita kuat dan besar.
Nyalakan semangat, FOKUS pada apa yang kita inginkan
Dan saat kita kembali berinteraksi dengan sesama pebisnis, tak ada lagi hasrat tempel tempel image atau minder dan ga pede.
Yang ada adalah semangat mencari ilmu, saling memberi dan berbagi semangat, mengasah diri, mengupgrade kapasitas diri, dan sinergi.
Kamis, 23 April 2015
Jujur Membaca Usaha Sendiri
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar