Sebenarnya ada rasa yang kurang nyaman saat "dipaksa" untuk membongkar kembali catatan perjalanan usaha kami. Ada beberapa episode yang sudah kami kubur dalam-dalam. Rasanya lebih aman memulai ceritanya dari beberapa tahun kebelakang saja
Tapi baiklah saya akan coba memberanikan diri mengingat-ingat kisah jatuh bangun itu
2006 mendirikan optik pada bulan Juni di paviliun rumah orang tua. karyawan 1 orang
2007 november mengontrak toko di sekitaran DT
2008 usaha mulai meningkat.
2009 februari membuka satu cabang di sekitar Polban. menambah karyawan. membeli rumah pertama.
2010 mulai mengenal pinjaman bank. menambah karyawan.
2011 menambah 1 cabang lagi, membeli rumah dan kendaraan. Pinjaman dan cicilan makin meningkat
2012 Suami terkena stroke diusia 34 thn. Usaha saya handle sendiri. mulai tidak stabil
2013 Optik Ciwaruga ditutup karena sudah tidak rasional untuk diteruskan
2014 akhir rumah kedua dilepas karena sudah tidak sanggup mencicil, begitu juga mobil, sementara rumah pertama sudah dihibahkan.
2014 akhir memutuskan untuk berhenti berhubungan dengan bank dan riba.
Jumlah utang sebelumnya nyaris setengah M,
2015 semua karyawan mengundurkan diri, kami saya dan suami merintis kembali dari awal usaha ini.
2018 alhamdulillaah sisa utang 70 juta pada saudara. sementara utang bank sudah selesai. Kami lebih tenang, dan lebih mudah untuk berpikir membesarkan kembali usaha
Kami ingin mulai merintis divisi online untuk marketing Orbit Optical, karena selama ini masih offline.
***
Sejujurnya dunia entrepreneur pada awalnya bukanlah passion saya. 10 tahun menggeluti dunia usaha n embuat dunia ini pelan tapi pasti telah menyatu dalam pikiran dan jiwa saya.
Alloh beri kami jalan yang Engkau ridhai dalam ranah usaha ini. aamiin
Diary Entrepreneur
Perjalanan Entrepreneur. Ikhtiar Mendekat pada-Nya
Senin, 26 Februari 2018
Flashback Usaha Kami
Minggu, 27 Maret 2016
Engkau Tempat Bergantung
Bila semua usaha telah dilakoni
Bila segala ikhtiar sedang diarungi
Bila daya upaya telah dikerahkan
Dan kita merasa kekelahan?
Mungkin ada yang tetlupa
Atau mungkin juga ada "starting point" yang perlu dibenahi
Satu ilmu yang sudah lama sampai di serambi akal
Namun baru saja meresap di dinding hati
Muncul pertanyaan-pertanyaan yang menuntut kejujuran diri untuk dijawab
? Untuk apakah segala usaha, daya upaya dan ikhtiar yang dilakukan?
# Tentu agar dapat kesuksesan
? Apakah semua ikhtiar itu penyebab datang kesuksesan?
# Ya tidak sepenuhnya juga sih. Klo penentu kesuksesan kan Alloh. Dia Yang Maha Mengatur. Maha Memutuskan. Maha Kaya
Tapi tetap kan kita juga harus usaha. Kudu ikhtiar. Ga mungkin sukses tiba tiba datang dari langit tanpa kita jalani ikhiar buminya
? Well well well. Bisa jadi benar. Tapi coba kita cermati lebih dalam dengan hati yang jujur.
Berapa banyak nanusia berikhtiar. Dan ia terjebak pada situasi "meng Ilahkan ikhtiar". Yaaa menuhankan ikhtiar.
Apa indikatornya? Mudah kita identifikasi. Saat berhasil dia bangga akan usahanya. Jika gagal dia kecewa, terpuruk luar biasa dan menyalahkan diri, orang lain atau lingkungan yang berlebihan.
# Lalu seharusnya bagaimana sikap mental kita sehubungan dengan ikhtiar ini?
? Mudah saja :) perhatikan dan ikuti step stepnya.
Pertama. Hujamkan keyakinan bulat bahwa segala sesuatu terjadi atas KEHENDAKNYA. Atas KEKUASAANNYA. manusia tak punya hak atas hasil. Kemampuan manusia berikhtiarpun semata karunia dariNya
Kedua : ikhtiar adalah wujud IBADAH dalam menjemput rizki. Daya upayanya akan berganjar pahala dariNya. Sementara hasil dari ikhtiar itu adalah karunia dari Alloh.
Maka jika sukses Ia tak sombong. Jika gagal Ia tak kecewa. Apa yg telah dia upayakan tersimpan lengkap sebagai kebaikan di sisi Alloh.
Selamat menjemput rizki dengan sikap mental yang benar :)
Jumat, 11 Maret 2016
Deep
Saat tersadar menatap kurva usaha berada di posisi deep.
Galau ... Baper ....
Lanjutkan atau banting stir.
Cari ilmu lagi
Agar tak salah ambil keputusan
........
Kamis, 14 Mei 2015
Rileks
Terkadang kita lupa, ada jiwa kanak kanak kita yang haus untuk dipenuhi gejolaknya.
Saat kita penuhi kehausan gejolak kanak kanak kita, biasanya jiwa lebih rileks dan happy
Jumat, 01 Mei 2015
HARMONI
Kami keluarga wirausaha
Kami keluarga homeschooler
Hampir 24 jam Bapa, Ibu dan anak anak berinteraksi langsung
Gesekan bahkan benturan kepentingan dan keinginan antar "kami" sangat mungkin terjadi
Rumah - Pendidikan dan Pengasuhan anak anak - Bisnis, tiga hal yang menuntut untuk dipenuhi hak-haknya
Menjadikan 3 hal tersebut harmoni menjadi perjalanan panjang yg mesti dilalui dengan penuh penghayatan :)
Kamis, 23 April 2015
Jujur Membaca Usaha Sendiri
Saat berinteraksi dengan sesama pebisnis, ada beberapa "penyakit" yang harus kita waspadai.
Pertama ; jika usaha kita pernah atau (merasa) sedang maju, biasanya ada hasrat untuk memoles usaha kita denga image-image kemapanan, kesejahteraan, kemewahan, serta atribut lainnya.
Kedua ; jika kita merasa usaha kita belum apa-apa, maka penyakit minder, ga pede, tidak "lepas" dalam berinteraksi, ragu mengeluarkan potensi atau justru iri dengki pada kemajuan usaha orang lain serta penyakit lainnya.
Saat gejala-gejala diatas mulai terdeteksi ada dalam diri kita, maka berhentilah sejenak, luangkan waktu untuk jujur berdialog dengan "diri kita".
Lihatlah dengan penglihatan yang objektif bagaimana dan baru sampai mana usaha kita sesungguhnya?
Bagaimana kondisi finansial usaha kita? cashflownya?, neracanya?. omset?, profit?, hardcash yang dipegang?
Bagaimana pemasarannya?, promosinya?, brandingnya?, volume penjualannya?
Lalu SDM, masih jadi self employeekah kita? Waktu kita habis untuk urus usaha? Bagaimana dengan keluarga? Adakah space waktu, pikiran dan dana untuk pengembangan diri kita?
Karyawan, bagaimana produktifitasnya?, kesejahteraannya? Pengembangan dirinya?
Dan berderat pertanyaan lainnya yang dapat kita dialogkan dengan "diri" kita
Setelah itu, apa langkah berikutnya???
Dengan menyisir kondisi usaha kita, maka kita akan tahu lubang lubang yang harus ditambal, retak retak yang harus diperbaiki, serta sisi mulus yang harus dipertahankan.
Lalu buat langkah langkah kongkrit agar usaha kita kuat dan besar.
Nyalakan semangat, FOKUS pada apa yang kita inginkan
Dan saat kita kembali berinteraksi dengan sesama pebisnis, tak ada lagi hasrat tempel tempel image atau minder dan ga pede.
Yang ada adalah semangat mencari ilmu, saling memberi dan berbagi semangat, mengasah diri, mengupgrade kapasitas diri, dan sinergi.
Sabtu, 18 April 2015
Prductivity Techniques
1. Plan your day before it start.
2. Read and Write your outcomes
3. Develop a regular schedule
4. Analize your activity to identify and minimize time wasters
5. Analuze your business, employees to identify and minimize time wasters
6. Priority...priority...priority
7. Use your day timer system
8. Write it down and thinking in paper
9. Manage interuptions
10. Work everyday toward on outcome
11. Control the telephone, gadget and social media
12. Learn to terminate discussion
13. Delegate.